Spora adalah

Spora adalah sel reproduksi mikroskopis uniseluler mikroorganisme yang dapat memunculkan individu baru. Ini adalah struktur yang tidak aktif secara metabolik. Namun, mengandung materi genetik untuk menghasilkan individu baru. Pembentukan spora terutama terjadi sebagai respons terhadap kekurangan nutrisi pada bakteri.

Mirip dengan kista, spora juga memiliki dinding tebal. Oleh karena itu, spora tahan terhadap kondisi lingkungan yang merugikan. Bakteri endospora adalah spora paling resisten yang tidak dapat disterilkan dengan mudah. Selain itu, beberapa bakteri menghasilkan eksospora di luar sel vegetatif. Baik endospora maupun eksospora ini merupakan ancaman bagi kesehatan dan keamanan pangan.

Kista dan spora adalah struktur istirahat mikroorganisme. Tidak seperti kista, spora adalah struktur reproduksi yang dapat berkembang menjadi individu baru. Jadi, inilah perbedaan utama antara kista dan spora. Selanjutnya, encystment adalah proses pembentukan kista, sedangkan sporulasi adalah proses pembentukan spora. Karena itu, kita dapat menganggap ini juga sebagai perbedaan antara kista dan spora.

Selain itu, perbedaan lebih lanjut antara kista dan spora adalah bahwa pembentukan kista dominan terjadi di bawah berbagai jenis kondisi lingkungan yang merugikan. Tapi, sporulasi terutama terjadi di bawah kekurangan nutrisi.

Spora adalah struktur reproduksi mikroskopis uniseluler yang dapat berkembang menjadi individu baru. Bergantung pada jenis spora yang berbeda, tumbuhan dapat bersifat homoseks atau heterospora. Homospor mengacu pada tumbuhan yang hanya memiliki satu jenis spora, sedangkan heterospora merujuk pada tumbuhan dengan dua jenis spora: spora jantan (mikrospora) dan spora betina (megaspora).

Dalam angiospermae, mikrospora adalah butiran serbuk sari dan mereka ditemukan di dalam kantung serbuk sari atau mikrosporangium. Mikrospora sangat kecil, struktur kecil. Mereka hampir seperti partikel debu. Setiap mikrospora memiliki satu sel dan dua mantel. Lapisan terluar adalah bagian luar, dan bagian dalam adalah bagian dalam. Ekstin adalah lapisan yang keras dan terpotong-potong. Ini sering mengandung hasil spinosus.

Terkadang bisa mulus juga. Intinya halus, dan sangat tipis. Ini terutama terdiri dari selulosa. Ekstin berisi satu atau lebih tempat tipis tempat intin tumbuh untuk membentuk tabung serbuk sari. Tabung serbuk sari memanjang melalui jaringan ginoesium membawa dua gamet jantan di dalamnya. Pada tumbuhan berbunga, sel induk megaspora membelah secara meiotik, membentuk tetrad dari empat megaspora di mana tiga megaspora atas mengalami degenerasi.

Pengertian

Spora adalah satu atau beberapa sel (bisa haploid ataupun diploid) yang terbungkus oleh lapisan pelindung. Sel ini dorman dan hanya tumbuh pada lingkungan yang memenuhi persyaratan tertentu, yang khas bagi setiap spesies.

Fungsi spora sebagai alat persebaran mirip dengan biji, meskipun berbeda jika ditinjau dari segi anatomi dan evolusi. Tumbuhan berbiji dipandang dari sudut pandang evolusi juga menghasilkan spora.

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : √ Perkembangbiakan Vegetatif Pada Tumbuhan : Alami Dan Buatan Serta Contohnya
Dasar Teori Spora

Spora bakteri merupakan bentuk bakteri yang sedang dalam keadaan mengamankan diri terhadap pengaruh buruk dari lingkungan luar.Bakteri dalam bentuk spora merupakan suatu fase dimana kedua mikroorganisme itu berubah bnetuk untuk melindungi diri terhadap faktor lingkungan luar yang tidak menguntungkan (Dwidjoseputro, 2001)

Spora bakteri umumnya disebut endospora, karena spora dibentuk di dalam sel. Ada dua tipe sel spora yang terbentuk, yang pertama terbentuk di dalam sel, yang disebut dengan endospora dan spora yang terbentuk di luar sel yang disebut eksospora. Spora bakteri tidak berfungsi untuk perkembangbiakan. Bentuk spora bermacam-macam, bulat atau bulat memanjang, bergantung pada spesiesnya. Ukuran endospora lebih kecil atau lebih besar daripada diameter sel induknya. Kebanyakan bakteri pembentuk spora adalah penghuni tanah, tetapi spora bakteri dapat tersebar dimana saja (Jutono,1980).

Beberapa spesies bakteri menghasilkan spora eksternal. Streptomyces, misalnya, meghasilkan serantaian spora (disebut konidia), yang disangga di ujung hifa, suatu filamen vegetatif. Proses ini serupa dengan proses pembentukan spora pada beberapa cendawan (Irianto, 2006).

Spora pada bakteri adalah endospora, suatu badan yang refraktil terdapat dalam induk sel dan merupakan suatu stadium isrtirahat dari sel tersebut. Endospora memiliki tingkat metabolisme yang sangat rendah sehingga dapat hidup sampai bertahun-tahun tanpa memerlukan sumber makanan dari luar (Irianto, 2006).Semua endospora bakteri mengandung sejumlah besar asam dipikolinat yaitu suatu substansi yang tidak terdeteksi pada sel vegetatif. Sesungguhnya, asam tersebut merupakan 5-10 % berat kering endospora. Sejumlah besar kalsium juga terdapat dalam endospora, dan diduga bahwa lapisan korteks terbuat dari kompleks Ca2+ – asam dipikolinat peptidoglikan (Pelczar, 1986).

Terdapat enam marga bakteri penghasil endospora yaitu Bacillus, Sporolactobacillus, Clostridium, Desulfotomaculum, Sporosarcina, Thermoactinomycetes. Sebelum digolongkan menjadi enam marga, bakteri penghasil endospora dibagi menjadi dua kelompok, yaitu termasuk Marga Bacillus jika merupakan gram positif, dan termasuk marga Clostridium jika merupakan gram negative (Jutono,1980).

Jenis -jenis bakteri tertentu terutama yang tergolong dalam genus bacillus dan clostridium mampu membentuk spora.oleh karena terbentuk didalam sel ,maka disebut endospore .Bakteri membentuk sapora bila kondisi diluar lingkungan kurang menguntungkan dan tidak lagi optimum dalam digunakan pertumbuhan dan perkembangbiakannya,misalnya :medium mongering,kandungan nutrisi menyusut dan sebagainya (Hastuti2015)

Dengan adanya kemampuan untuk membentuk spora ini, bakteri tersebut dapat bertahan pada kondisi yang ekstrim.Menurut Pelczar (1986) bakteri yang dapat membentuk endospore ini dapat hidup dan mengalami tahapan-tahapan pertumbuhan sampai beberapa generasi, dan spora terbentuk melalui sintesis protoplasma baru di dalam sitoplasma sel vegetatifnya.

Menurut Ray (2004), proses sporulasi dapat dibagi ke dalam 7 tahap. Pertama tahap penghentian replikasi DNA, diikuti dengan penjajaran kromosom di dalam filamen aksial dan pembentukan mesosom. Invaginasi membran sel dan pembentukan septum. Pembentukan prespora atau paraspora pun terjadi. Pembentukan dinding sel germinal dan korteks, akumulasi ion Ca2+ dan sintesis DPN. Deposisi mantel spora, pematangan spora, dehidrasi protoplas dan resistensi untuk panas. Tahap akhir terjadi lisis enzimatis pada dinding sel dan pembebasan spora. Siklus sporulasi dapat dilihat pada Gambar

Struktur

Berdasarkan struktur dan komponen kimia penyusun lapisan spora, spora bakteri tidak dapat dilihat tanpa pewarnaan. Spora dapat diamati setelah spora terwarnai dengan menggunakan pewarnaan spora.Salah satu contoh larutan yang dapat dijadikan sebagai pewarnaan spora yaitu larutan hijau malakit dan laritan safranin (Hastuti,2015)

Bila pewarnaan spora bakteri ini berhasil dengan baik, maka sel vegetatif bakteri akan berwarna merah. Jika sel membentuk spora, maka spora hasil pewarnaan akan berwarna hijau (Hastuti, 2015).

Baca Juga Artikel Yang Mungkin Berhubungan : Penjelasan Ciri-Ciri Dan Spesifikasi Dinoflagellata

Jenis

Pengertian spora berlaku umum, dalam arti tidak memandang bagaimana atau oleh spesies apa ia dibentuk. Akibatnya banyak istilah yang menggunakan kata ini. Penggunaan istilah spora meluas di lingkungan tumbuhan yang tidak berbiji (seperti paku-pakuan dan lumut-lumutan), fungi, Myxozoa, dan bakteri.

1. Jenis spora menurut fungsi

  • Spora sebagasdsai alat persebaran untuk tumbuhan berpembuluh non-biji, lumut, fungi, dan Myxozoa. Spora dengan pengertian ini dikenal juga sebagai diaspora.
  • Endospora dan eksospora, merupakan spora yang dibentuk oleh bakteri tertentu (dari divisio Firmicuta) sebagai alat pertahanan hidup dalam kondisi ekstrem.
  • Klamidospora (chlamydospore), fungsinya mirip dengan endospora, tetapi dihasilkan oleh fungi.
  • Zigospora sebagai alat persebaran haploid dari fungi Zygomycota. Spora ini berdinding tebal dan dapat tumbuh madasdenjadi konidium atau zigosporangium.

Beberapa istilah lain juga menggunakan kata spora, seperti sporozoit dan sporoblas namun sama sekali bukan spora.

2. Jenis spora berdasarkan pembentukannnya

Spora yang dihasilkan dari meiosis dinamakan meiospora dan yang dihasilkan dari mitosis dinamakan mitospora.

Contoh penghasil meiospora: paku air, rane, tumbuhan lumut, tumbuhan berbiji. Meiospora menumbuhkan organisme haploid (disebut protonema pada tumbuhan lumut dan disebut protalus pada rane dan paku air) yang menghasilkan spermatozoid dan sel telur. Pada tumbuhan berbiji, meiospora tumbuh menjadi serbuk sari (pollen) dan kantung embrio.

Contoh penghasil mitospora: sebagian besar paku-pakuan, sebagian besar fungi. Pada paku-pakuan, mitospora tumbuh menjadi protalus yang setelah dewasa menjadi protalium.

Bentuk pada Spora

Untuk bentuk spora ini serupa dengan biji, namun bentuknya sangat kecil sehingga tidak dapat dilihat dengan mata telanjang. Spora dapat dilihat dengan bantuan alat yang disebut dengan mikroskop. Spora ini berasal dari sel yang berubah fungsi menjadi alat perkembangbiakan.

Dalam perkemabngbiakan pada jamur yang tumbuh liar di kebun terjadi pada saat spora jatuh ke tanah yang lembab dan subur. Spora yang jatuh tersebut berubah menjadi alat perkembangbiakan dan mengisap makanan, hingga akhirnya tumbuh menjadi tumbuhan jamur yang baru.

Fungsi

Pada tumbuhan yang berkembangbiak supaya tidak mengalami kepunahan sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem. Keseimbangan ekosistem terganggu karena pemanfaatan tumbuhan yang tidak memperhatikan kelestarian lingkungan. Yang salah satu cara dalam perkembangbiakan tumbuhan ialah dengan cara spora. Dalam hal ini spora merupakan satu atau beberapa sel (bisa haploid ataupun diploid) yang terbungkus oleh lapisan pelindung. Sel ini dorman dan hanya tumbuh pada lingkungan yang memenuhi persyaratan tertentu, yang khas bagi setiap spesies.

Spora berfungsi sebagai alat persebaran (dispersi) mirip dengan biji, meskipun berbeda jika ditinjau dari segi anatomi dan evolusi. Tumbuhan berbiji dipandang dari sudut pandang evolusi juga menghasilkan spora.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *