Apa yang dimaksud dengan Validitas

Validitas adalah sejauh mana sebuah konsep, kesimpulan atau pengukuran beralasan dan kemungkinan berhubungan secara akurat dengan dunia nyata. Kata “valid” berasal dari bahasa Latin validus, yang berarti kuat. Ini tidak harus disamakan dengan gagasan kepastian atau keharusan. Validitas alat pengukuran (misalnya, tes dalam pendidikan) dianggap sejauh mana alat mengukur apa yang diklaim untuk diukur. Validitas didasarkan pada kekuatan kumpulan berbagai jenis bukti (mis. Validitas wajah, validitas konstruk, dll.) Yang dijelaskan secara lebih rinci di bawah ini.

Dalam psikometrik, validitas memiliki aplikasi tertentu yang dikenal sebagai uji validitas: “sejauh mana bukti dan teori mendukung interpretasi skor tes” (“sebagaimana disyaratkan oleh penggunaan tes yang diusulkan”).

Secara umum diterima bahwa konsep validitas ilmiah membahas sifat realitas dalam hal ukuran statistik dan dengan demikian merupakan masalah epistemologis dan filosofis serta masalah pengukuran. Penggunaan istilah dalam logika lebih sempit, terkait dengan kebenaran kesimpulan yang dibuat dari premis. Dalam logika, dan oleh karena itu istilah ini diterapkan pada klaim epistemologis apa pun, validitas merujuk pada konsistensi argumen yang mengalir dari premis ke kesimpulan; dengan demikian, kebenaran klaim dalam logika tidak hanya bergantung pada validitas. Sebaliknya, klaim argumentatif benar jika dan hanya jika itu valid dan masuk akal. Ini berarti argumen mengalir tanpa kontradiksi dari premis atau kesimpulan, dan semua premis dan kesimpulan sesuai dengan fakta yang diketahui. Dengan demikian, “validitas ilmiah atau statistik” bukanlah klaim deduktif yang tentu saja melindungi kebenaran, tetapi merupakan klaim induktif yang tetap benar atau salah dalam cara yang belum diputuskan. Inilah sebabnya mengapa “validitas ilmiah atau statistik” adalah klaim yang dikualifikasikan sebagai kuat atau lemah dalam sifatnya, itu tidak pernah perlu atau pasti benar. Ini memiliki efek membuat klaim “validitas ilmiah atau statistik” terbuka untuk interpretasi tentang apa, sebenarnya, fakta-fakta dari masalah tersebut.

Pengertian validitas menurut Anastasia dan Urbina adalah mengenai apa dan seberapa baik suatu alat tes dapat mengukur, sedangkan reliabilitas merujuk pada konsistensi skor yang dicapai oleh orang yang sama ketika diuji berulang kali dengan tes yang sama pada kesempatan yang berbeda, atau dengan seperangkat butir-butir ekuivalen (equivalent items) yang berbeda, atau dibawah kondisi pengujian yang berbeda. Secara khusus dalam literatur generalisasi validitas, efek sistematik ini dapat dibaca pada bahasan-bahasan tentang perbedaan antara penelitian-penelitian dalam hal reliabilitas tes, kriteria reliabilitas, hal batasan interval, jumlah dan jenis dari kriteria kontaminasi dan defisiensi, struktur faktor dari tes yang konstruk yang sama, dan perbedaan dalam penelitian-penelitian dalam hal struktur faktor dari kriteria pengukuran (Contohnya: Pearlman, Schmidt, & Hunter, 1980; Linn & Dunber, 1986). Uji validitas adalah uji tentang kemampuan suatu kuesioner sehingga benar-benar dapat mengukur apa yang ingin diukur, sedangkan uji reliabilitas adalah uji untuk menentukan sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengadakan pengujian analisis item, reliabilitas, dan validitas tes Myers-Briggs Type Indicator (MBTI) bentuk G. Adapun tes ini pertama kali dikembangkan oleh Isabel Briggs Myers, bekerja sama dengan Katharine C. Briggs, dengan berlandaskan teori kepribadian dari Jung.

Validitas konstruksi bukanlah dimaksudkan bahwa tes yang bersangkutan dipandang sudah baik susunan kalimat soalnya, atau urut-urutan butir nomor soalnya sudah runtut, melainkan bahwa tes hasil belajar baru dapat dikatakan telah memiliki validitas konstruksi apabila butir-butir soal atau item yang membangun tes tersebut benar-benar telah dapat dengan secara tepat mengukur aspek-aspek berpikir sebagaimana telah ditentukan dalam tujuan instruksional khusus. Validitas isi (content validity)adalah pengujian validitas dilakukan atas isinya untuk memastikan apakah butir tes hasil belajar mengukur secara tepat keadaan yang ingin diukur (Purwanto, 2011: 120).

Suatu alat ukur disebut memiliki validitas bilamana alat ukur tersebut isinya layak mengukur objek yang seharusnya diukur dan sesuai dengan kriteria tertentu. Hitung koefisien validitas instrumen yang diuji (r-hitung), yang nilainya sama dengan korelasi korelasi hasil langkah sebelumnya dikali koefisien validitas instrumen terstandar. Tentukan koefisien korelasi antara skor hasil tes yang akan diuji validitasnya dengan hasil tes yang terstandar yang dimiliki oleh orang yang sama dengan menggunakan rumus korelasi produk momen di bawah ini:

Hitung koefisien validitas instrumen yang diuji (r-hitung), yang mempunyai nilai sama dengan korelasi hasil langkah sebelumnya dikali dengan koefisien validitas instrumen terstandar. Untuk menentukan koefisien korelasi antara skor hasil tes yang akan diuji validitasnya dengan hasil tes yang terstandar yang dimiliki orang yang sama dapat memakai rumus korelasi produk momen. Suatu tes yang dimaksudkan mengukur variabel A akan tetapi menghasilkan data mengenai variabel A’ atau bahkan B, dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki validitas rendah untuk mengukur variabel A dan tinggi validitasnya untuk mengukur variabel A’ atau B (Azwar 1986).

Suatu tes yang dimaksudkan untuk mengukur variabel A dan kemudian memberikan hasil pengukuran mengenai variabel A, dikatakan sebagai alat ukur yang memiliki validitas tinggi. Dalam pengujian alat ukur pengumpulan data penelitian, validitas itu ada dua macam, yaitu validitas faktor dan validitas item. Untuk mengetahui apakah kedua alat ukur tersebut memiliki hasil yang sama, maka hasil pengukuran dengan kedua alat tersebut harus dikorelasikan jika korelasi yang dihasilkan tinggi dan signifikan berarti alat yang baru tersebut memiliki validitas yang memadai.

Jika suatu alat ukur dimaksudkan untuk mengukur inteligensi, alat ukur tersebut dikatakan memiliki validitas konstruk jika hasil pengukuran dari alat ukur tersebut dapat memprediksikan kecepatan dalam belajar. Suatu alat ukur dikatakan memiliki validitas konstruk jika berisikan butir-butir yang merupakan jabaran operasional dari domain atau karakteristik psikologis yang diukur, atau hasil yang diperoleh adalah konsisten dengan yang dipreskripsikan oleh teori yang digunakan sebagai acuan. Sebuah uji validitas dikatakan memiliki validitas kontruk jika mampu mengukur hubungan antara skor uji dengan prediksi dari nilai teoritisnya.

Adalah sebuah uji validitas dimana kriteria-kriteria diukur bersamaan dengan skor test. Sebuah alat ukur dikatakan dapat diukur dengan uji validitas dengan kriteria jika mampu mengukur keefektifannya dalam mengukur kriteria-kriteria atau indikator-indikator yang telah ditetapkan. Validitas isi adalah validitas yang ditilik dari segi isi tes itu sendiri sebagai alat pengukur hasil belajar yaitu: sejauh mana tes hasil belajar sebagai alat pengukur hasil belajar peserta didik, isinya telah dapat mewakili secara representatif terhadap keseluruhan materi atau bahan pelajaran yang seharusnya diteskan (diujikan) (Sudijono, 2013: 164).

Suatu tes dikatakan memiliki validitas yang tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukur secara tepat atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Nah, perlu diperhatikan bahwa jika setelah dilakukan validitas product moment pearson correlation terdapat item soal yang tidak valid, maka ada beberapa pilihan solusi yang dapat anda lakukan yakni: (1) Mengulang dan mengganti dengan soal yang lain, (2) Mengulang angket dan dibagikan kepada responden lagi tanpa harus diganti soalnya, (3) Tidak mengubah soal dan tidak membagikan ulang angket kepada responden, namun item angket yang tidak valid tersebut di drop-out (dengan catatan item yang valid masih dapat menggambarkan dan mengukur variabel yang diteliti) dan tidak ikut dihitung dalam pengujian berikutnya (uji reliabilitas). Suatu tes dikatakan memiliki validitas yang tinggi apabila alat tersebut menajalankan fungsi ukur secara tepat atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut.

Apabila skor alat ukur dan skor kriterianya dapat diperoleh dalam waktu yang sama, maka korelasi antara kedua skor termaksud merupakan koefisien validitas konkuren. • Curricular Validity adalah validitas yang ditentukan dengan cara menilik isi dari pengukuran dan menilai seberapa jauh pungukuran tersebut merupakan alat ukur yang benar-benar mengukur aspek-aspek sesuai dengan tujuan instruksional. Sedangkan tes yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.

Proses mengukur validitas faktor tersebut adalah dengan cara menghubungkan atau mengkorelasikan antara skor faktor (penjumlahan dari semua item dalam satu faktor) dengan skor total faktor (total keseluruhan dari faktor).

Validitas penting karena dapat membantu menentukan jenis tes apa yang akan digunakan, dan membantu memastikan para peneliti menggunakan metode yang tidak hanya etis, dan hemat biaya, tetapi juga metode yang benar-benar mengukur ide atau gagasan yang dibangun.

Kelly (1927) yang menyatakan bahwa tes valid jika mengukur apa yang diklaimnya untuk mengukur, merumuskan konsep validitas. Jadi, validitas mengacu pada kredibilitas atau kepercayaan dari penelitian. Katakanlah, misalnya, tes Anda bermaksud untuk mengukur sikap suatu komunitas terhadap praktik sosial daerah tersebut.

Jadi, jika tes mengukur tingkat sikap masyarakat mengenai praktik sosial tertentu, tanpa mengukur hal lain seperti dampak praktik sosial pada komunitas sosial, maka kita dapat mengatakan bahwa tes tersebut valid atau validitas tes adalah tercapai. Oleh karena itu, validitas merupakan indikasi seberapa baik riset atau tes Anda.

Ada dua jenis validitas:

  • Validitas internal – instrumen atau prosedur yang digunakan dalam penelitian ini mengukur apa yang seharusnya diukur
  • Validitas eksternal -Jika hasilnya dapat digeneralisasikan di luar studi langsung

Kedua jenis validitas ini relevan untuk mengevaluasi validitas studi penelitian atau prosedur.

Loading…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *