Apa yang dimaksud dengan Pendekatan historis

Pendekatan historis adalah Pendekatan kronologis terhadap suatu kejadian atau gejala

penyelidikan atas suatu masalah dengan mengaplikasikan jalan pemecahannya dari perspektif historis. Dengan pendekatan historis yang dimaksud adalah meninjau sesuatu permasalahan dari sudut tinjauan sejarah, dan menjawab permasalahan, serta menganalisisnya dengan metode analisis sejarah. Sejarah memang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa masa lalu, namun peristiwa masa lalu tersebut hanya berarti dapat dipahami dari sudut tinjauan masa kini, dan ahli sejarah dapat benar-benar memahami peristiwa dan kejadian masa kini hanya dengan petunjuk-petunjuk dari peristiwa dan masa lalu tersebut.

Dengan demikin dapat dikatakan bahwa dengan mempelajari masa lalu, orang dapat memahami masa kininya, dan dengan memahami serta menyadari keadaan masa kini, maka orang dapat menggambarkan masa depan. Itulah yang dimaksud dengan perspektif sejarah. Di dalam studi islam, permasalahan atau seluk-beluk dari ajaran agama islam dan pelaksanaan serta perkembangannya dapat ditinjau dan dianalisis dalam kerangka perspektif kesejarahan yang demikian itu.

Pendekatan kesejarahan ini amat dibutuhkan dalam memahami agama, karena agama itu sendiri turun dalam situasi yang konkret bahkan berkaitan dengan kondisi sosial kemasyarakatan. Dalam hubungan ini, Kuntowijoyo telah melakukan studi yang mendalam terhadap agama yang dalam hal ini islam, menurut pendekatan sejarah. Ketika ia mempelajari Alquran, ia sampai pada suatu kesimpulan bahwa pada dasarnya kandungan Alquran ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, berisi konsep-konsep dan bagian kedua, berisi kisah-kisah sejarah dan perumpamaan.

Namun, dalam pendekatan ada beberapa kesulitan yang harus dihadapi oleh pendekatan historis; pertama,apabila bukti-bukti sejarah yang tersedia tidak memadai. Dalam keadaan demikian, pendekatan historis tidak bias berbicara banyak kecuali spekulasi-spekulasi tentang apa yang apa yang diperkirakan telah terjadi. Kedua, apabila bukti-bukti sejarah tidak bisa diverifikasi. Ketiga, adanya bias yang lahir dari pra-konsepsi yang dimiliki oleh penulis ketika ia mencoba menjelaskan hubungan pengaruh mempengaruhi antara yang terdahulu dankemudian
Langkah-langkah Penting Praktis Metodis Pendekatan Historis

Beberapa langkah atau tahapan yang harus dilakukan dalam pendekatan historis dalam setudi islam adalah:

1. Tahapan akumulasi data. Dalam tahapan ini, sumber sejarah merupakan salah satu yang menentukan kualitas pendekatan. Oleh karena itu yang perlu diperhatikan dalam hal sumber sejarah ini adalah akurasi, dan otentisitasnya sehingga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Adapun jenis sumber sejarah itu sendiri antara lain :
a. Sumber tertulis, seperti prasasti, arsip, segala dokumen, kitab-kitab, serat, babad, hikayat, buku, majalah, dan sebagainya. Semuanya dapat dikumpulkan faktanya melalui telaah teks atau library research.
b. Sumber visual, dan audio visual. Sumber semacam ini ditela’ah melalui pengamatan.
c. Benda-benda sejarah yang dapat memberikan dan menjadi bukti sejarah.
d. Sumber lisan, yaitu penuturan lisan dari pelaku sejarah dan atau penyaksi adanya peristiwa sejarah. Pengumpulan data terhadap sumber tersebut dapat dilakukan dengan metode wawancara.

Sumber penelitian dengan menggunakan pendekatan historis dibagi menjadi sumber primer dan sumber skunder. Adapun sumber primer dapat melalui dokumen, prasasti dan orang-orang yang terlibat langsung, sedangkan sumber skunder adalah orang-orang yang tidak terlibat langsung karena dia mendapat informasi dari sumber primer.
Sumber-sumber di atas, dalam proses pengumpulannya perlu dipertimbangkan apakah ia termasuk sumber primer, yaitu sumber langsung asli sebagai jejak-jejak sejarah, ataukah ia termasuk sumber sekunder, ialah sumber tidak langsung yang memberikan informasi adanya peristiwa sejarah.

2. Pemilihan data. Pemilihan data ini dilakukan dengan cara menyeleksi sumber sejarah melalui kritik sejarah. Kritik sejarah ini dilakukan terhadap dua hal, yaitu kritik terhadap sisi eksternal sumber dan kritik terhadap sisi internal sumber. Kritik eksternal, yaitu kritik terhadap sisi fisik sumber. Apakah bahan yang dipakai itu asli, apakah tulisan tintanya juga asli dan sebagainya. Intinya di sini mempertanyakan keaslian (otentisitas) sumber sejarah. Kritik internal, yaitu kritik terhadap isi sumber. Apakah isi dari pernyataan sumber itu dapat dipercaya? Caranya dengan membandingkan beberapa sumber yang sama. Apabila isi dari sumber itu sama benar, maka sumber itu dinyatakan dapat dipercaya kebenarannya.

3. Tahapan interpretasi data. Tahapan ini merupakan proses pendekatan sejarah yang tidak terpisahkan dari langkah berikutnya, yaitu penulisan sejarah. Yang dimaksud interpretasi dalam hal ini adalah proses analisis terhadap fakta-fakta sejarah, atau bahkan proses penyusunan fakta-fakta sejarah itu sendiri. Seperti dikemukakan di depan, bahwa fakta sejarah haruslah objektif, tetapi tidaklah berarti peneliti tidak ada peluang untuk menerangkan fakta itu atas dukungan teori yang dimilikinya. Oleh karena itu proses interpretasi sejarah juga dimungkinkan masuk unsur-unsur subjektif peneliti, terutama gaya bahasa dan sistem kategorisasi atau konseptualisasi terhadap fakta-fakta sejarah berdasarkan teori yang dikembangkannya.

4. Tahapan penulisan data. Dalam pendekatan sejarah, penulisan sejarah merupakan proses rekonstruksi sejarah.

Dalam hal ini kerangka penulisan yang sudah dipersiapkan menjadi patokan, dan pola penulisan dimaksud tergantung kepada penulis, apakah penyusunannya berdasarkan pola yang dikembangkan secara urut waktu atau periodesasi ataukah didasarkan kepada tema-tema unik sesuai peristiwa sejarah.

Demikian pula model pemaparan atas fakta-fakta sejarah dapat ditempuh secara deduktif maupun induktif. Suatu hal yang penting dicatat, bahwa penulisan sejarah biasa dikembangkan secara kualitatif, sehingga antara deskripsi fakta dan analisisnya merupakan satu kesatuan di dalam pemaparan sejarah. Dalam hal ini, Badri Yatim dalam salah satu kesimpulannya tentang penulisan sejarah, mengatakan bahwa pengerjaan ilmu sejarah tidak saja menuntut kemampuan teknis dan wawasan teori, tetapi juga integritas yang tinggi. Karena itu, dalam melakukan studi sejarah, sejarawan sering harus meninjau kecenderungan pribadinya.

Adapun metode sejarah dalam pengertiannya yang umum adalah penyelidikan atas suatu masalah dengan mengaplikasikan jalan pemecahannya dari perspektif historis. Berdasarkan pengertian di atas, para ahli ilmu sejarah sepakat untuk menetapkan empat kegiatan pokok di dalam cara meneliti sejarah. Istilah-istilah yang dipergunakan bagi keempat langkah itu berbeda-beda, tetapi makna dan maksud nya sama. Gottschalk (1983: 18), misalnya,

mensistematisasikan langkah-langkah itu sebagai berikut:

1. Pengumpulan objek yang berasal dari suatu zaman dan pengumpulan bahan-bahan tertulis dan lisan yang relevan.
2. Menyingkirkan bahan-bahan (atau bagian-bagian daripadanya) yang tidak autentik.
3. Menyimpulkan kesaksian yang dapat dipercaya berdasarkan bahan-bahan yang autentik.
4. Penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya itu menjadi suatu kisah atau penyajian yang berarti.

Dan untuk teori-teori dalam pendekatan historis terdapat beberapa teori seperti yang disampaikan oleh Khoirudin Nasution (2009: 223) bahwa dalam pendekatan historis ada dua teori yaitu:

1. Idealist approach, seorang peneliti yang berusaha memahami dan menafsirkan fakta sejarah dengan mempercayai secara penuh fakta yang ada tanpa keraguan.

2. Reductionalist approach, seorang peniliti yang berusaha memahami dan menafsirkan fakta sejarah dengan penuh keraguan.
Dari dua teori tersebut terjadi kontradiksi yaitu yang satu mempercayai dengan tanpa keraguan dan yang satunya lagi dengan penuh keraguan. Berdasarkan kontradiksi tersebut penulis lebih setuju dengan teori yang kedua yaitu Reductionalist approach, karena dengan adanya keraguan maka peneliti akan lebih hati-hati dalam menerima fakta yang ada, tidak semua diterima langsung melainkan melakuakan penyaringan mana fakta yang akurat dan benar.

Selain dua diatas ada beberapa teori lagi yang digunakan dalam pendekatan sejarah, yaitu:

1. Diakronik, penelusuran sejarah dan perkembangan satu fenomena yang sedang diteliti. Misalnya, kalau sedang meneliti konsep riba menurut Muhammad Abduh, diakroninya adalah harus lebih dahulu membahas kajian-kajian orang sebelumnya yang pernah membahas riba.

2. Sinkronik, kontekstualisasi atau sosiologis kehidupan yang mengitari fenomena yang sedang diteliti. Misalnya, konsep riba Muhammad Abduh, maka sosial kehidupan Muhammad Abduh dan sosial kehidupan tokoh-tokoh yang pernah membahas fenomena yang sama juga harus dibahas.

3. Sistem nilai, budaya sang tokoh dan budaya dimana dia hidup.
Berdasarkan dengan teori diakroni, sinkronik dan sistem budaya maka pendekatan historis merupakan pendekatan dengan meneliti atau menelusuri latar belakang dan perkembangan fenomena yang diteliti lengkap dengan sejarah sosio historis dan nilai budaya yang mengitarinya.

Loading…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *