Apa yang dimaksud dengan Chorionic Villus Sampling (CVS)

Chorionic Villus Sampling (CVS) adalah Teknik diagnosis prenatal yang mengambil sampel kecil jaringan dari plasenta dan tes untuk cacat lahir tertentu. Ini adalah tes deteksi dini, karena dapat dilakukan 10 hingga 12 minggu setelah siklus menstruasi terakhir seorang wanita.

Chorionic villus sampling, kadang-kadang disebut “chorionic villous sampling”, adalah bentuk diagnosis prenatal untuk menentukan kelainan kromosom atau genetik pada janin. Ini melibatkan pengambilan sampel vilus korionik dan mengujinya untuk kelainan kromosom, biasanya dengan IKAN atau PCR

CVS adalah pemeriksaan lanjutan pra persalinan dengan cara mengambil contoh kecil jonjot korion, yakni jaringan di tepi plasenta yang bentuknya menonjol seperti jemari. Bagian ini diambil untuk memeriksa ketidaknormalan kromosom. Untuk melakukan tes CVS, usia kehamilan ibu sebaiknya berada di antara di antara minggu ke-10 dan minggu ke-13.

Lantas seberapa penting tes ini dilakukan oleh ibu hamil?

Dikutip dari what to expect, CVS digunakan untuk mendeteksi kelainan seperti sindrom down, penyakit Tay-Sachs, anemia sel sabit, dan sebagian besar tipe cystic fibrosis. CVS tidak dapat mendeteksi kelainan tabung saraf dan kelainan organ Moms. Pengujian untuk penyakit selain sindrom down biasanya hanya dilakukan ketika keluarga orang tua memiliki riwayat penyakit tersebut atau orang tua diketahui sebagai pembawa penyakit tersebut.

Para ahli percaya bahwa CVS akan dapat mendeteksi lebih dari 1000 jenis kelainan yang disebabkan oleh kelainan gen atau kromosom. Bergantung pada lokasi plasenta, contoh sel dapat diambil melalui vagina dan mulut rahim (CVS transservikal) atau melalui jarum yang dimasukkan ke dalam dinding perut (CVS transabdominal).

Jangan khawatir Moms, tidak satu pun dari kedua metode tersebut menimbulkan rasa nyeri. Hanya saja beberapa orang wanita mungkin mengalami kram sama seperti ketika menstruasi ketika pengambilan sampel dilakukan.
Pemeriksaan CVS dilakukan sekitar 30 menit. Seluruh prosedurnya aman, tetapi tetap menimbulkan risiko keguguran sekitar 1 dari 370 kasus. Perdarahan vagina pun mungkin terjadi setelah CVS dan tak perlu dikhawatirkan Moms. Tetapi sebaiknya dilaporkan.

Jika perdarahan berlangsung selama 3 hari atau lebih lama, beri tahu dokter Anda. Memilih tempat pemeriksaan yang terpercaya dan menunggu hingga setelah minggu ke-10 sebelum pemeriksaan dilakukan dapat mengurangi risiko tersebut.

Pada CVS transservikal, Anda akan diminta berbaring telentang Moms, lalu tabung panjang kecil dimasukkan melalui vagina ke dalam rahim. Dengan bantuan USG, dokter akan menempatkan tabung itu diantara dinding rahim dan korion yaitu lapisan tipis pembungkus janin yang kelak akan membentuk plasenta. Setelah itu, jonjot korion kemudian dipotong atau diisap untuk diperiksa.

Sama seperti proses CVS transservikal, pada CVS transabdominal pun Anda akan diminta berbaring telentang. USG digunakan untuk menentukan lokasi plasenta dan melihat dinding rahim. Dengan bantuan USG, jarum dimasukkan melalui perut dan dinding rahim hingga mencapai ujung plasenta, kemudian contoh jonjot korion diambil dengan jarum itu.

Karena jonjot korion berasal dari janin, hasil CVS dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai gen janin. Untuk ketepatan hasil, CVC dapat mendeteksi ketidaknormalan kromoso dengan ketelitian hingga 98 persen.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *