Apa yang dimaksud dengan aberasi cahaya

Yang dimaksud dengan aberasi cahaya adalah sesatan cahaya

aberasi juga bisa berati gerakan seolah-olah berpindah dari suatu benda di langit akibat gerakan bumi. Benda langit tersebut terlihat dalam arah yang mengaturnya dengan resultante dari kecepatan sinar yang masuk.

Contoh bentuk aberasi antara lain:

A. Aberasi Cahaya : yakni suatu peristiwa dimana telah terjadi pergeseran garis pandang ke suatu bintang dari arah yang sebenarnya. Bila seseorang melihat bintang, ia tidak melihatnya dalam arah garis lurus yang langsung menghubungkan matanya dengan posisi bintang itu dalam keadaan yang sebenarnya. Sedangkan orang itu melihat bintang tersebut dalam posisinya yang semu; sedangkan garis yang menghubungkan mata pengamat dengan posisi semu bintang tersebut membentuk suatu sudut kecil dengan garis pandang yang sebenarnya. Posisi semu tersebut bisa terjadi karena kombinasi gerakan bumi terhadap matahari/bintang dengan kecepatan cahaya. Peristiwa ini pertama kalinya ditemukan oleh James Bradely, seorang astronom bangsa Inggris, 1728. Adapun putaran bumi pada porosnya juga mempunyai sedikit pengaruh pada aberasi ini. Bradley menggunakan aberasi cahaya ini untuk menentukan kecepatan cahaya.

B. Aberasi Optik atau disebut sesatan gambar merupakan suatu peristiwa dalam mana gambar dibentuk oleh sebuah cermin atau lensa yang menyimpang dari harapan yang ditentukan berdasarkan perhitungan teori pertama. Sesatan gambar yang utama misalnya: aberasi sferik, koma, distorsi atau salah gambar, astigmatisma serta aberasi kromatik.

C. Aberasi sferik aberasi ini timbul sebagai akibat dari kegagalan lensa dalam membentuk gambar dari sinar pusat dan sinar-sinar yang melalui daerah yang lebih ke pinggir lensa pada satu titik. Perbedaannya terletak dalam hal dimana pada aberasi sferik, benda gambarnya akan berbentuk lingkaran, sedangkan dalam koma gambarnya berbentuk seperti bintang berekor/komet. Astigmatisma itu sama dengan koma dalam hal bahwa koma itu terbentuk akibat penyebaran gambar dari suatu titik pada suatu bidang yang tegak lurus pada sumbu lensa sedangkan asigmatisma terbentuk sebagai penyebaran gambar dalam suatu arah sepanjang sumbu lensa. Dalam ketiga hal tersebut, gambarnya akan menjadi kabur. Adapun distorsi timbul akibat dari pembesaran yang berbeda dalam arah yang menjauhi sumbu lensa; sehingga suatu benda yang tadinya berbentuk garis lurus akan berubah bentuknya menjadi melengkung.

Aplikasi Pemanfaatan Sifat Aberasi

  1. Menguji kesempurnaan lensa berdasarkan sifat aberasi

Telah dilakukan penelitian tentang perubahan pola frinji akibat ketidaksempurnaan lensa berdasarkan sifat aberasi lensa dengan menggunakan metode interferometer Twyan-Green.

Interferometer Twyman-Green adalah suatu instrumen yang sangat bermanfaat untuk mengukur cacat dalam suatu komponen seperti lensa, prisma, kaca plane-parallel, laser, dan cermin datar, sehingga metode ini telah banyak digunakan di bidang industri optik untuk menguji tingkat kesempuranaan produk-produk yang mereka hasilkan. Lensa akan dikatakan sempurna jika tidak terjadi aberasi, hal ini diperlihatkan dengan adanya pola frinji yang dihasilkan tidak mengalami perubahan bentuk maupun penyimpangan posisi (Hecht, 1990).

Sumber cahaya yang digunakan adalah sinar laser He-Ne dengan panjang gelombang = 632,8 nm dan laser dioda dengan panjang gelombang = 645 nm. Bahan yang digunakan adalah 4 buah lensa cembung yang masing masing mempunyai panjang fokus lensa 18 mm, 48 mm, 50 mm dan 100 mm. Tingkat kesempurnaan lensa dapat dilihat dari penyimpangan pola frinji yang dihasilkan, penyimpangan ini bisa dalam bentuk pola frinji yang dihasilkan maupun dari posisi pola frinji terhadap titik pusat dari berkas sinar.

Dari pengujian yang telah dilakukan terhadap empat lensa cembung diperoleh bahwa semakin besar panjang fokusnya, tingkat kesempurnaannya semakin bagus. Tetapi tingkat kesempurnaan ini tidak bergantung terhadap panjang fokusnya akan tetapi bergantung tingkat kelengkungan dari permukaan lensa karena dengan kelengkungan permukaan lensa yang semakin kecil sifat aberasi sferis lensa semakin kecil pula.

Cara Kerja :

Lensa yang akan diuji diletakkan diantara beam spliter (cermin pembagi sinar) dan movable mirror (cermin yang dapat digeser). Berdasarkan pola frinji yang dihasilkan dari interferensi sinar yang berasal dari adjustable mirror (cermin yang dapat diatur kedudukannya) dan movable mirror akan dapat diketahui tingkat aberasi lensa sehingga tingkat kesempurnaan suatu lensa dapat diketahui. Penelitian ini dibatasi hanya pada pengamatan pola frinji yang dihasilkan sebelum dan sesudah memakai bahan (lensa cembung) menggunakan metode interferometer Twyman-Green. Bahan atau lensa cembung yang digunakan dalam penelitian ini diasumsikan sebagai lensa tipis.

 

Loading…


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *